Sahur on The Road

Bulan suci Ramadhan hanya tinggal menghitung hari. Umat Muslim dari seluruh dunia, bersiap-siap untuk menyambut bulan suci dan penuh keberkahan ini. Pun begitu juga dengan saya dan keluarga. Segala sesuatunya mesti dipersiapkan untuk menyambut dan menjalani bulan suci Ramadhan.


Berbicara masalah bulan suci Ramadhan, selalu saja ada cerita-cerita unik dan menarik yang datang dari berbagai belahan dunia.

Nggak usah jauh-jauh deh, nanti capek lagi, hehehe... Seperti di Negeri ini, menjelang bulan suci Ramadhan banyak peziarah yang memadati areal pemakaman untuk berziarah ke makam para family, kerabat maupun orang-orang terdekatnya. Dan menjelang akhir bulan suci Ramadhan, fenomena mudik selalu saja menyajikan sederetan cerita yang terbilang cukup unik, menarik, menggelitik dan asik untuk diselisik.

Kalau berbicara masalah bulan suci Ramadhan dan fenomena mudik menjelang lebaran, saya jadi teringat pengalaman 20 tahun yang lalu. Saat itu saya masih SMP (sekitar tahun 1995-an).

Tradisi mudik menjadi agenda wajib

Tradisi mudik seolah sudah menjadi agenda wajib bagi sebagian besar masyarakat rantau di kota Jakarta. Termasuk keluarga saya.

Saat itu kami semua berencana untuk berlebaran di kota kelahiran saya, Kota Kuningan. Kami terbiasa mudik menggunakan bus dari terminal Pulo Gadung (baca artikel : Pengalaman Mudik Naik Bus). Karena jasa travel saat itu belum ada. Makanya kami semua selalu naik bus sesaat menjelang lebaran, yang mau nggak mau harus berebutan naik ke dalam bus. Dapat naik ke dalam bus saja sudah untung, yang penting bisa mudik, pikir kami semua. Sengaja kami mengambil waktu perjalanan mudik pada malam hari, agar nggak membatalkan puasa kami kalau berangkat pada siang hari.

Berhubung penumpang bus membludak, kami pun terpaksa harus rela berdiri berjubel bersama penumpang lainnya. Tapi kami cukup bersyukur karena cuma berdiri sekitar 6 jam. Lebih kasian lagi Nyonya Meneer yang berdiri sejak tahun 1919.

Bus melaju cukup kencang, karena kondisi malam hari arus kendaraan nggak begitu padat. Istirahat pun hanya sekali saja dan itu pun masih jauh dari waktu sahur. Kami manfaatkan waktu istirahat untuk membeli bekal nasi untuk dimakan sahur nanti.

Akibat mati listrik

Setelah melewati Kota Cirebon, nampak kondisi gelap karena kabarnya sedang ada mati listrik. Kebayang kan, gelapnya kayak apa, cuma ngandelin terang bulan (yang kebetulan sinarnya lagi terang-terangnya), lampu-lampu dari kendaraan di jalanan dan lampu-lampu minyak dari masing-masing rumah.

Sampai mendekati tujuan pun, masih tetap gelap. Kami nggak bisa melihat keluar jendela dengan begitu jelas, hanya terlihat samar-samar saja. Handphone juga belum ada bro saat itu. Tahu dong apa yang terjadi. Karena gelap dan nggak bisa melihat kondisi di luar, akhirnya kami kelewatan turunnya.
Masjid Agung Cilimus, Kuningan - Blog Mas Hendra

Seharusnya kami turun di Cilimus, tetapi sudah kelewat lumayan jauh, barulah kami semua turun dari bus. Persis di depan gapura jalanan masuk ke sebuah desa yang bernama Manis Kidul. Mana kami semua belum sempat sahur, karena bus ternyata tadi nggak berhenti istirahat lagi untuk memberi kesempatan sahur kepada penumpangnya.

Kami pun tetap sahur di pinggir jalan dengan sisa waktu yang ada dengan penerangan seadanya dan berbekal nasi yang sudah kami beli saat istirahat tadi.

Kami pun menunggu sampai ada angkot terpagi yang lewat. Hmmmm... Kasian... Kasian... Kasian... Tapi bagaimana pun juga puasa tetap harus jalan, karena hukumnya WAJIB. Begitu pesan Ibu saya saat itu. Yang penting niatnya bro.

Benar-benar Sahur on The Road nih......

You May Like This :


EmoticonEmoticon