Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tradisi 40 Hari Setelah Meninggal di Jawa Tengah (Tegal)

tradisi-40-hari-di-jawa

Pagi itu saya awali dengan aktivitas 'gegeni' alias menghangatkan badan di depan pawon (dapur tradisional khas masyarakat Jawa). Rutinitas ini biasa saya lakukan untuk mengurangi rasa dingin, karena suhu udara di pagi hari terasa cukup menusuk tulang. Sambil ditemani segelas air putih hangat, saya duduk menghadap pawon. Sementara suasana di dapur sudah mulai ramai oleh ibu-ibu yang mulai memasak. Ya. Hari itu kami ingin mengadakan acara tahlilan 40 hari meninggalnya Ibu mertua.

Pagi itu tidak seperti biasanya, aktivitas di rumah istri sangat sibuk. Apalagi di dapur, karena akan menyiapkan makanan untuk para tamu yang datang ke rumah. Sementara Bapak mertua dan saya menyiapkan ruang khusus untuk membaca 30 Juzz Al-Qur'an.

Jujur saja, baru kali ini saya mengikuti secara langsung tradisi 40 hari setelah meninggal di Jawa Tengah, khususnya wilayah Tegal. Setiap daerah tentu memiliki tradisi yang berbeda-beda. Seperti di tempat tinggal istri saya di Bojong, Tegal, memiliki tradisi yang cukup unik. Yuk kita simak daftar tradisi yang saya jumpai di kampung istri berikut ini :

Tradisi Unik 40 Hari di Tegal

Keberagaman tradisi tahlilan, khusunya 40 hari di Indonesia tentu memiliki ciri khasnya masing-masing. Mungkin ada yang merayakan tradisi ini, dan ada juga yang tidak merayakannya. Masing-masing tentu punya pendapatnya. Yang terpenting adalah saling menghormati keberagaman tradisi tersebut, bukan malah sebaliknya, saling mencela dan menghina tradisi yang sudah turun temurun. Selama tradisi tersebut tidak melanggar syariat agama Islam dan merusak akidah.

Tidur di Bawah Sebelum 40 Hari Berlalu

Ada yang unik saat saya mau menginap pada malam pertama saya tiba di rumah istri. Ketika saya ingin tidur di atas tempat tidur, keluarga menyarankan untuk tidur di bawah, tanpa menggunakan dipan, jadi hanya pakai kasur saja. 

Menurut orang tua (sangat) dulu, bagi keluarga yang ditinggalkan, kalau mereka tidur di atas ranjang, maka arwah yang telah dimakamkan di dalam tanah akan merasa kepanasan. Jadi sebaiknya tidur di bawah dulu hingga lewat 40 hari. Jadi untuk menghormati yang sudah meninggal. Kurang lebih seperti itu keterangan yang saya dapat.

Saya baru tahu kalau tradisinya seperti itu. Meski hanya sebatas mitos, tapi saya tetap menghormati tradisi tersebut tanpa menyinggung perasaan keluarga istri. Sebagai pendatang, tentu saja kita perlu menghormati suatu tradisi di tempat lain. Nggih nopo mboten lur? 😃

Mengkhatamkan 30 Juzz

Tepat di hari ke-40, tradisi mengkhatamkan Al-Qur'an kerap dilakukan oleh masyarakat di kampung istri. Biasanya dilakukan oleh orang yang sudah hapal Al-Qur'an. Di rumah istri pun dilakukan tradisi yang sama. Kami menyiapkan sebuah ruangan yang sudah dipasangi hordeng, lalu para qori yang terdiri dari dua orang akan membaca Al-Qur'an secara bergantian melalui pengeras suara (biasanya menggunakan toa).

Adapun tujuan dari ruangannya disekat dengan hordeng agar para qori bisa lebih fokus dan konsentrasi ketika membaca Al-Qur'an. Apalagi di saat yang bersamaan, para tamu berdatangan ke rumah. Kalau tidak disekat, pasti konsentrasinya akan terpecah.

tradisi-40-hari-di-jawa

Pembacaan Al-qur'an dimulai dari jam 07.45 pagi. Lalu istirahat jam 12.00 - 13.00. Setelah selesai sholat dan makan siang, pembacaan Al-Qur'an dilanjut lagi hingga selesai jam 14.45. Lalu ditutup dengan do'a khatam Al-Qur'an.

Tahlilan 40 Hari Dilakukan Malam Harinya

Setelah siang harinya mengkhatamkan 30 Juzz, malam harinya mengundang tidak kurang dari 150 orang untuk menghadiri acara tahlilan. Pembacaan doa dipimpin oleh ustadz setempat. Setelah selesai, semua tamu mendapatkan berkat atau besek yang sudah disiapkan. Tapi seperti biasa, sebelum pada bubar, ada sebagian tamu yang mengobrol sambil menghisap rokok kreteknya.

Berziarah ke Makam Selama 40 Hari

Setiap jam 06.00 pagi, saya, Bapak mertua dan beberapa saudara terdekat rutin berziarah ke makam Ibu mertua untuk mendoakan beliau dengan dipimpin oleh seorang ustadz. Hal ini dilakukan selama tujuh hari pertama dan di hari ke-40. 

tradisi-40-hari-di-jawa

Tapi sang ustadz tersebut rutin berziarah selama 40 hari penuh. Setelah lewat dari 40 hari, sang ustadz berhenti berziarah. Selanjutnya keluarga berziarah ke makam, meski tidak rutin sekaligus membersihkan makam.

Bersedekah dalam Bentuk Beras

Para tamu yang datang ke rumah, biasanya membawa beras sebagai bentuk sedekah. Ada yang membawanya di dalam ember kecil, tapi ada juga yang membawanya di dalam plastik. Sedekah dalam bentuk beras dinilai lebih mudah, apalagi sebagian besar mata pencarian di kampung istri adalah petani.

tradisi-40-hari-di-jawa

Jumlah sedekah yang diberikan pun berbeda-beda, tergantung kemampuan. Tidak ada paksaan. Bentuk sedekah di setiap daerah pun beragam, mulai dari beras, uang, makanan dan lain sebagainya.

Pengertian Tahlilan

Menurut Wikipedia, tahlilan adalah ritual atau upacara selamatan yang dilakukan sebagian umat Islam, kebanyakan di Indonesia dan kemungkinan di Malaysia. Tahlilan untuk memperingati dan mendoakan orang yang telah meninggal yang biasanya dilakukan pada hari pertama kematian hingga hari ke-7, dan selanjutnya dilakukan pada hari ke-40, ke-100, tahun pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.

Kata 'tahlil' sendiri secara harfiah berarti berzikir dengan mengucap kalimat tauhid "Laa ilaaha illallah" (tiada yang patut disembah kecuali Allah).

Tahlilan bukanlah kegiatan yang diwajibkan. Mau melakukannya atau tidak adalah kembali kepada keyakinan diri masing-masing. Tahlilan juga bukanlah kegiatan yang harus dilakukan secara berkumpul-kumpul di rumah duka dan oleh karenanya dituduhkan bisa membebani tuan rumah. Jadi yang terpenting adalah kebersamaan untuk mendoakan orang yang sudah meninggal.

💚💚💚

Nah itulah tradisi 40 hari yang biasa dilakukan masyarakat di kampung istri. Semoga bisa menambah wawasan baru seputar tradisi atau keberagaman budaya yang ada di Indonesia. Ayo ceritakan tradisi yang ada di kampung Anda. 

2 comments for "Tradisi 40 Hari Setelah Meninggal di Jawa Tengah (Tegal)"

  1. Ternyata, banyak sekali ya mas tradisinya. Beberapa sama dengan tradisi di tempat tinggal saya, hantaman Al-Qur'an hingga tahlilan.
    Kalo di daerah saya, pas tahlilan itu biasanya ada sesi ceramah dari kiyai, isinya tentang mengingatkan diri, bahwa semua akan mati juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo di tempat istri gak ada sesi ceramah, jadi hanya tahlilan saja. Betul, tradisinya lumayan beragam Mas, mungkin sebagian besar hampir sama di tanah Jawa.

      Delete

Berlangganan via Email