Jangan Sampai Terlewat! Super Blue Blood Moon Hadir di Indonesia

Super Blue Blood Moon - Blog Mas Hendra

Halo pembaca setia Blog Mas Hendra. Ada kabar baik nih dari Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Pada tanggal 31 Januari 2018 nanti, masyarakat dapat menyaksikan fenomena langka Super Blue Blood Moon. Seperti diketahui, keistimewaan fenomena ini karena pada saat berlangsung nanti, akan terjadi tiga peristiwa alam secara bersamaan, yakni Supermoon, Blue Moon dan Gerhana Bulan Total. 


Itulah mengapa sebabnya, gabungan peristiwa ini disebut juga sebagai Super Blue Blood Moon atau gerhana bulan biru kemerahan.

Yang paling menarik dari peristiwa ini, Super Blue Blood Moon dapat dinikmati dengan mata telanjang alias tanpa bantuan alat. Tapi meski demikian, ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh masyarakat jika ingin menyaksikan fenomena langka tersebut.


Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin mengatakan, "Cukup amati purnama dan sesuaikan waktunya menurut waktu setempat, misalnya WITA dan WIT," Jum'at (26/01/2018).

Merujuk pada pernyataan Kepala Lapan tersebut, kita perlu ketahui bahwa Indonesia dibagi menjadi tiga zona waktu, yakni WIB, WITA dan WIT. Diperkirakan fenomena Super Blue Blood Moon akan berlangsung sejak pukul 18.48 WIB. Itu artinya, Indonesia Bagian Tengah kebagian pada pukul 19.48 WITA, dan Indonesia Timur pada pukul 20.48 WIT.

Adapun keseluruhan proses gerhana diperkirakan akan terjadi sampai pukul 22.11 WIB. Dengan demikian, Indonesia Tengah akan menikmati fenomena itu hingga pukul 23.11 WITA dan Indonesia Timur pada pukul 24.11 WIT.

Bagi kalian yang ingin mengabadikan fenomena Super Blue Blood Moon lewat bidikan kamera, Thomas menyarankan agar menyandingkannya dengan objek yang ada di sekitarnya.

"Misalnya, lebih baik tahapan Gerhana disandingkan dengan objek latar depan yang menarik dari arah timur, seperti Monas, gedung-gedung yang menarik bentuk dan cahayanya, misalnya Jembatan Ampera, Palembang, Jembatan Pasupati Bandung, Borobudur atau Prambanan, "tutur ahli astronomi lulusan ITB dan Kyoto University ini.

Selain menyiapkan beberapa persiapan diatas, tentu saja harapan kita semua agar kondisi cuaca pun ikut mendukung, karena kondisi terbaik untuk menyaksikan fenomena ini adalah ketika langit tidak terhalang awan mendung ataupun lainnya. Ya berdoa saja semoga kita dapat melihatnya dengan lancar tanpa kurang suatu apapun.

Baca juga artikel menarik lainnya guys : 8 Teknologi yang Tergeser Oleh Smartphone

Semoga bermanfaat.

You May Like This :


EmoticonEmoticon