Yang Penting Kualitas

 
Sumber Foto : andyholloman.com
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat terjerat kasus ketagihan mengkonsumsi donat. Apa lacur, saya pun sering membelinya di dekat rumah. Kebetulan ada warung baru yang memproduksi donat rumahan yang penjualnya tak lain adalah saudara dari istri saya. Ya meskipun gak sehebat kualitas donat yang sudah go internasional semisal Dunkin Donats maupun J-Co, tapi tetap donat produksi rumahan ini jangan dianggap murahan loh. Toh bahannya pun sama-sama terbuat dari tepung terigu dan sama-sama ngenyangin perut. Hanya prestisenya saja yang mungkin berbeda.

Di suatu sore, demi untuk menemani keberadaan secangkir kopi yang telah saya buat, saya pun berniat membeli donat sebagai camilan tandingan kopi. Bukan cuma DPR aja yang ada tandingannya toh (logat Makassar).

Lantas istri saya pun membeli donat di warung donat milik saudaranya. Yah itung-itung silaturahmi juga. 

Beberapa lama kemudian istri saya pulang dengan membawa satu plastik penuh donat. Iya betul, bukan beberapa saat, namun beberapa lama. Karena transaksi pembelian donat yang dilakukan istri saya selalu di bumbui dengan obrolan yang durasinya cukup untuk membaca surat Yaa-Siin sampai tamat.

Kepulangannyapun sangat saya nantikan. Yang saya heran malah membawa sekantong plastik penuh donat. Padahal rencana awal cuma berniat membeli beberapa potong donat saja.

Setelah melalui proses interogasi yang cukup singkat, usut punya usut, ternyata donat yang satu plastik penuh dihibahkan begitu saja untuk istri saya. Kami pun langsung terharu tak terkira tak terhingga sepanjang masa. Ibarat pribahasa mengatakan : Bagai mendapat donat,.. eh durian runtuh.

Berdasarkan penjelasan dari istri saya, saudaranya istri saya tersebut memiliki prinsip dalam berdagang, memberikan kualitas yang terbaik bagi para pelanggannya. Nggak mau ngecewain pelanggannya dengan menjual donat-donat sisa. Makanya donat-donat yang nggak habis terjual, dihibahkan kepada kami. Hal ini justru menjadikan dagangannya selalu laris manis diburu para donat hunter, karena rasa donatnya yang selalu fresh.

Menurut hemat saya, pedagang yang lebih mengutamakan kualitas dan kepuasan konsumen, secara nggak langsung sedikit demi sedikit telah menanamkan benih-benih kepercayaan dari para konsumen. Begitu juga sebaliknya, pedagang yang nggak memperdulikan kualitas dan kepuasaan konsumen, sedikit demi sedikit telah merontokkan kepercayaan konsumen. Dan akan berimbas pada usaha dagangnya.

Karena saya pun pernah beberapa kali membeli makanan yang sudah nggak fresh lagi, alias sudah melalui proses penghangatan. Padahal saya mengharapkan makanan yang akan saya beli itu fresh dan masih layak untuk dikonsumsi. Dan Anda tau apa yang ada di pikiran saya, saya nggak akan pernah kembali lagi untuk membelinya.

Well, semuanya kembali kepada diri Anda sendiri, lebih mengedepankan kualitas atau lebih mengedepankan keuntungan yang besar, namun menomor duakan kualitas.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhu bahwa Rasuluillah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang pedagang muslim yang jujur dan amanah (terpercaya) akan (dikumpulkan) bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat (nanti).” HR Ibnu Majah (no. 2139), al-Hakim (no. 2142) dan ad-Daraquthni (no. 17).

Baca juga artikel lainnya : Saya Pengen Difoto Dong!!.

Quality is number one!

7 comments

Itulah resiko bisnis kue-kue basah mas jika tidak habis ngak bisa dijual lagi untuk keesokan harinya.Karena jika dipaksakan dijual justru merugikan pedagang sendiri pelanggan bisa kabur

Reply

Ya justru itu, kadang ada aja pedagang yang kurang jujur Mas Dwi. Makanya saya kadang selektif banget

Reply

Sepakat, bahwa kualitas adalah nomor satu :D

Reply

memang betul mas, tapi sekarang ada solusi lain buat para pedagang kue atau roti, misalnya sudah tidak habis, selain bisa dihibahkan kepada saudara, teman atau tetangga, bisa juga menjualnya pada peternak ikan lele, karena satau saya didaerah saya banyak peternak lele yang membeli sisa-sisa roti untuk pakan ternaknya

Reply

Bener juga mas, bisa juga dijual ke peternak ikan lele, tapi di tempat saya nggak ada peternak lele... Mungkin kalo di daerah masih banyak. Sistem begitu bagus tuh, artinya simbiosis mutualisme, sama-sama menguntungkan...

Reply

Post a Comment