Melihat Langsung Proses Persalinan

Papan Nama Bidan Nur - Blog Mas Hendra


Hari Sabtu (18/07/2015) atau bertepatan dengan tanggal 2 Syawal 1436 H, merupakan hari yang berbahagia bagi saya, istri dan keluarga besar kami. Karena hari itu istri saya melahirkan anak kedua dengan berat 3,4 kg dan panjang 50 cm. Kami sengaja nggak menyiarkan proses persalinan secara live, takut dibilang ikut-ikutan.



Meskipun proses persalinan sang istri nggak dihadiri oleh Pak Jokowi, tapi keluarga besar kami hadir. Alhamdulillah proses persalinan berjalan dengan normal dan lancar. Kami kembali dikaruniai anak laki-laki lagi, yang mungkin saja didaulat untuk menemani putra pertama kami, Nabil. Dan istri saya menjadi satu-satunya yang paling cantik di rumah, karena dikelilingi oleh 3 laki-laki yang ganteng dan caem, ehemmm!!

Jam 3 pagi, istri saya merasakan mulas kemudian nggak lama hilang lagi, terus muncul lagi. Begitu terus sampai jam 5 pagi.

Tepat jam 5 pagi, muncullah lendir yang bercampur darah. Wah, ini pasti pertanda proses persalinan sudekat.

Jam 7 pagi, kami pun periksa ke Bidan langganan di dekat rumah. Bidan menjadi tempat favorit sementara bagi kami. Sampai di lokasi, Bidan melakukan pemeriksaan dengan cara merogoh dengan menggunakan tangan. Sadis dan wajar bro...

Tampak Depan Bidan - Blog Mas Hendra
Rumah bidan tempat proses persalinan berlangsung yang nyaman tapi banyak nyamuk, hihihi

"Baru pembukaan dua" Bidan mengambil kesimpulan.

Total pembukaan mencapai sepuluh. Artinya masih tersisa delapan pembukaan lagi menuju proses kelahiran. Tapi untuk proses kelahiran normal yang kedua, biasanya akan lebih cepat.

Dan benar saja, tepat jam 9.35, sang jabang bayi keluar ke dunia dengan selamat. Tangisan pertamanya ke dunia yang fana ini memenuhi ruang persalinan. Seorang bayi laki-laki yang imut dan cakep, mirip bapaknya. Begitu kata kebanyakan orang yang mungkin saja boleh dibilang KHILAF.

Setelah dede bayi keluar, proses berikutnya adalah pemotongan tali pusar yang masih menempel pada udel dede bayi. Setelah dipotong, dede bayi langsung diletakkan diatas perut Ibu, untuk kemudian nenen atau PPKN (Pengenalan Pertama Kepada Nenen).

Kemudian, bidan mengeluarkan tali pusar yang lumayan panjang yang menyatu dengan ari-ari yang ukurannya lebih kurang sebesar hati kambing. Semuanya dikeluarkan melalui mulut rahim. Dan darah pun banyak yang keluar. Sereeem dan ngilu bro...

Setelah tali pusar dan ari-ari dikeluarkan, langkah selanjutnya adalah bidan membersihkan area dalam rahim. Yang tentu saja sangat menyakitkan. Bidan pun membersihkannya seorang diri, tanpa dibantu oleh petugas Dinas kebersihan.

Setelah dirasa sudah bersih dan 'kinclong', bidan pun langsung menyuntikkan dede bayi dengan vitamin K pada paha mungilnya. Tangisan keras yang kedua pun kembali memenuhi ruang persalinan.

Istri saya diharuskan untuk menginap semalam di tempat persalinan. Saya pun menemani semalam di bidan. Setiap hari, istri mendapat jatah makan yang bergizi dan dede bayi pun dimandikan dan diurus oleh para asisten bidan. Benar-benar puas dengan pelayanan yang diberikan. Berharap saya pun ikut dimandikan, tapi ibarat pepatah jauh panggang dari api, MUSTAHIL mau mandiin saya, terpaksa saya mandi sendiri.

Alhamdulillah. Sebagai seorang bapak, saya sudah menyaksikan secara langsung proses persalinan anak yang kedua. Betapa susah payah dan beratnya perjuangan seorang Ibu ketika melahirkan. Antara hidup dan mati memang benar adanya. Makanya di dalam Islam, bila seorang Ibu meninggal ketika melahirkan, akan mendapatkan pahala sama dengan pahala mati syahid.

Itulah sebabnya bro mengapa kita sebagai seorang anak, harus, kudu, mesti, wajib selalu menghormati dan berbakti kepada orang tua, terutama Ibu.

Semoga bermanfaat.

Baca juga artikel lainnya :

- Travelling to Kota Tua
- Cat Mario, Game yang Bikin Stress

4 comments

Selamat mas mudah mudah tambah anak tambah rezekinya aamiin

Reply

aamiin. makasih Mas Dwi, sama-sama...

Reply

klo ingett proses persalinan yg t'bayang itu satu kata.. TAKUT..., masih terasa bgt mules n ngejannya itu lho...
tapi salut buat para suami yang berani ikut dampingin istrinya melahirkan... dlu tuh sebelum lahiran, suami saya belum bisa jawab mau temanin apa engga krn dia agak parno sama darah.. tapi ternyta di hari H, dia berani berdiri di samping saya sambil genggam tangan (cieee) + kasih semangat...

Reply

Iya nih genggaman tangan keinget masa pacaran lagi ya, hehe... Iya memang sih, harus mengumpulkan mental lagi untuk kelahiran kedua,

Reply

Post a Comment