Film Animasi Rekomendasi Bagi Putra Putri Anda

Sudah lebih dari satu minggu ini, anak saya yang berusia 28 tahun lebih muda dari saya, sedang kecanduan menonton film animasi karya Negeri tetangga, yakni film Upin dan Ipin. Di saat bangsa ini sedang mempertahankan harga diri dan budaya aseli bangsa Indonesia dari caplokan Malaysia, justru banyak anak bangsa ini yang kepincut dengan film animasi karya Negeri Malaysia ini. Seolah mereka tak perduli dengan situasi yang sedang terjadi. Yah namanya juga anak kecil Om.

Film karya produksi Les' Copaque ini mengisahkan tentang kehidupan sehari-hari yang sarat dengan nilai edukasi tinggi yang di bintangi oleh Upin dan Ipin serta kawan-kawannya. Jangan salah, orang-orang kreatif di balik layar animasi ini, justru ada beberapa orang Indonesia yang ikut ambil bagian dalam proses produksinya loh. Keren khan...

upin, ipin, blog, mas, hendra
Ada kemiripan antara tokoh Upin dan Ipin dengan tokoh Nobita (Film Doraemon). Keduanya sama-sama belum pernah merasakan kelulusan sekolah. Bayangkan saja, dari zaman saya SD sampai sekarang sudah punya anak pun, Nobita belum juga lulus SD, sedangkan Upin dan Ipin lebih parah lagi, sudah beberapa tahun, namun belum juga lulus dari TK. Sepertinya mereka akan menjadi siswa abadi. Setidaknya nasib Nobita sedikit lebih baik, pernah merasakan lulus dari TK. Sungguh tragis memang.

Kegiatan menonton DVD Upin dan Ipin ini di mulai sejak dari pagi sebelum berangkat sekolah, ketika pulang dari sekolah, lalu sore sampai malam menjelang tidur lagi. Jadi kalau beliau lagi sekolah, giliran saya yang menonton berita pagi di TV. Hehehe...

Baca juga artikel : Apa Kabarnya Koran?? 

Yah mau tak mau, saya pun turut larut mengikuti alur cerita film animasi tersebut. Ternyata asyik juga mengikuti jalan ceritanya loh. Setiap adegannya terkadang dibumbui dengan tingkah konyol Upin dan Ipin yang konon katanya tak pernah shampoo-an tersebut.

Dari dalam Negeri pun, anak saya menyukai film animasi berjudul Adit, Sopo dan Jarwo besutan MD Animation. Film animasi yang satu ini pun tak kalah keren. Banyak pula nasehat yang dapat kita ambil. Gambar dan gerakannya sudah sangat baik. Bahkan lebih baik daripada Upin dan Ipin. Namun rupanya, beliau lebih tertarik dengan animasi Upin dan Ipin.

Balik lagi ke si Upin dan Ipin.

Setelah sekian lama saya mengamati film animasi Upin dan Ipin ini, saya pun memiliki beberapa point penting yang akan saya bahas pada artikel kali ini. Meskipun anak saya tak pernah mau mengambil kesimpulannya. Hmmm...


Bersahaja dan sederhana

Meskipun hanya sebuah film animasi, nampak jelas kesederhanaan lebih kental dalam setiap alur cerita yang disuguhkan. Mungkin sesuai dengan latar belakang yang berada di wilayah perkampungan. Jauh dari kemewahan dan barang canggih berteknologi tinggi. Saya pun belum pernah melihat Upin dan Ipin memainkan Tab atau Handphone dalam setiap episode-nya. Mereka memainkan permainan tradisional dan berbagai jenis permainan yang sesuai dengan usianya. Permainan tradisional antara Malaysia dan Indonesia pun tak jauh berbeda, mungkin masih ada kemiripan antar sesama bangsa Melayu.


Nilai edukasi yang tinggi

Hal yang paling esensi dari sebuah film adalah terdapat  sebuah pelajaran atau orang menyebutnya hikmah yang dapat kita petik di dalamnya. Bukan tentang kekerasan, perkelahian, amarah dan nilai-nilai negatif yang lainnya. Namun film animasi Upin dan Ipin memiliki nilai edukasi yang tinggi dalam setiap episodenya yang dikemas dengan sangat apik. Untaian nasehat demi nasehat disuguhkan dengan sebuah peristiwa yang berujung pada solusi yang mendidik dan mungkin juga patut ditiru oleh siapa pun yang menyaksikannya. Anda mungkin mengenal tokoh Opah (neneknya Upin dan Ipin), yang rajin memberikan nasehat kepada cucunya tersebut.

Nilai-nilai edukasi dalam animasi ini, selalu di nomor satu kan. Dan pesan yang terkandung di dalamnya sangat di utamakan, karena memang target audience mereka adalah anak-anak. Yang notabene mereka adalah PENIRU TERBAIK. Maka ketika anak-anak selesai menyaksikan animasi Upin dan Ipin, diharapkan dapat menyerap nilai-nilai edukasi tersebut dan menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Semoga.


Bangga dengan budaya sendiri

Selama menyaksikan film animasi ini, para pelakonnya sangat menghargai dan bangga dengan budaya dari negeri sendiri. Seolah ingin menunjukkan kepada dunia "ini loh budaya kita!". "ini loh yang kita punya". Memang sudah seharusnya seperti itu. Ada beberapa episode Upin dan Ipin yang menayangkan budaya-budaya dari Malaysia. Dan saya pun baru sekali itu melihatnya.

Meskipun kita sama-sama memiliki kemiripan budaya Melayu, namun tampaknya sebagian besar masyarakat kita lebih bangga dengan budaya yang datangnya dari Barat. Yang menyebabkan nilai aseli budaya bangsa kita mulai luntur secara perlahan. Benar atau betul?? Sungguh ironi.


Persahabatan tanpa pamrih

Apa sih arti persahabatan? Ada disaat suka maupun duka. Kurang lebih seperti itu, menurut pendapat sederhana saya. Film animasi ini mengajarkan kepada penontonnya untuk menjunjung tinggi nilai sebuah persahabatan. Bagaimana cara membantu teman yang sedang kesusahan. Bagaimana memberikan sesuatu kepada teman dengan ikhlas tanpa pamrih. Bagaimana saling menghargai dan menghormati antar sesama teman.

Persahabatan dalam animasi ini, mengajarkan kepada anak-anak untuk saling berbagi dan bagaimana menjadi seorang sahabat yang tanpa pamrih. Selalu ada disaat suka maupun duka. Selalu ada disaat susah maupun senang. Bukan malah sebaliknya, ada sewaktu kita senang dan menghilang ketika kita susah.


Menjunjung tinggi rasa kebersamaan

Ini masih ada hubungannya dengan nilai persahabatan diatas. Sekumpulan anak TK itu selalu memiliki rasa kebersamaan tinggi yang memang sudah seharusnya patut untuk ditiru. Mulai dari menolong teman yang kesusahan, saling menjenguk teman yang terkena musibah, saling membantu teman dan lain sebagainya. Kesemua action tersebut tentu saja sebagai bentuk edukasi yang baik yang ingin disampaikan kepada para penontonnya.

Semua point positif di atas semoga saja bukan hanya berupa bungkus kulit luarnya saja, sehingga yang akan di nilai baik oleh orang banyak hanya dari luarnya. Tetapi meliputi semua unsur sampai meresap ke dalam segala lapisan. NGOMONG OPO!!!

Yah intinya berikan tuntunan yang edukatif dan sesuai dengan usianya kepada anak-anak maupun calon anak-anak kita, bukannya tontotan yang penuh dengan kekerasan, dunia hayal maupun yang dipenuhi dengan unsur dendam dan kebencian maupun tontonan yang tak mendidik, semisal tayangan Sinetron maupun cewek seksi nan bahenol yang melenggak lenggok di atas panggung sambil bernyanyi dan menari. Yah kalau memang mau menonton tayangan tersebut, cukup bapaknya saja!! JANGAN MENGAJAK ANAK KECIL...... -__-


"BETUL... BETUL... BETUL..."

Baca juga artikel yang lainnya yaa : Bayi. Ada apa sama bayi?? 

You May Like This :


EmoticonEmoticon