Banyak Anak Banyak Rezeki

Kali ini saya nulis artikel ini sambil merem melek. Jangan negative thinking dulu loh, lha wong nulis artikelnya sambil menahan kantuk. Sebentar merem, sebentar melek. Ekspresinya mirip banget sewaktu keselek crayon selusin.


Alhamdulillah.. Mungkin kata syukur itu yang patut saya haturkan untuk saat ini. Bagaimana tidak, perjuangan keras nan menguras keringat ini tidaklah sia-sia. #ngelapingus.

Setelah lima tahun yang lalu, kami dikaruniai seorang anak yang lucu, isteri saya yang cewek sekarang sedang hamil lagi untuk anak kedua kami. Hamil muda dua bulan (sampai artikel ini ditulis). Katanya sih lagi seger-segernya. *emangnya es buah...

Mumpung masih muda, masih semangat, masih bisa bedain mana Miyabi dan mana Mpo Nori, saya pun merencanakan memiliki buah hati tambahan. Biar anak pertama kami, Nabil memiliki teman untuk bermain.

Kami memang berencana untuk memiliki buah hati cukup dua aja, sesuai dengan anjuran dari pemerintah. Yah meskipun sempat kepikiran mau bikin sebanyak satu team kesebelasan buat dikirim ke PSSI. #tepokjidattetangga
Ilustrasi. Banyak anak banyak rezeki
Terkadang saya sempat kepikiran dengan orang-orang jaman dulu, jaman dimana kakek nenek saya dan mungkin juga sama dengan teman-teman, yang notabene memiliki banyak keturunan. Bahkan bisa mencapai belasan anak. Gak kepikiran aja, apakah mereka gak keder sama nama anak-anaknya yang sebegitu banyaknya. Mungkin orang tuanya menyarankan anak-anaknya untuk memakai jersey bola dengan tertulis namanya di punggungnya masing-masing.#korbanbola

Kata orang dulu, banyak anak banyak rezeki. Mungkin filosopinya begini, semakin kita merawat dan membesarkan anak-anak kita dengan penuh kasih sayang, maka rezeki akan selalu datang dengan sendirinya. Anak terus tumbuh dewasa dan menjadi besar, lalu menjadi pengganti posisi kedua orang tuanya dalam mencari nafkah. Belum lagi doa-doa yang dipanjatkan berpasang tangan dari anak-anaknya, untuk selalu mendoakan kedua orang tuanya agar selalu diberi kesehatan, keberkahan hidup dan rezeki yang lancar. Tuhan memang maha adil dan gak pernah keliru ngasih rezeki makhluknya. 

Penerapan filosopi ini tentu mungkin terasa sulit pada zaman sekarang. Dimana tuntutan akan kebutuhan semakin meningkat. Udah gak jauh berbeda antara kebutuhan dan keinginan. Berbeda tipis. Berbeda dengan zaman dulu dimana kebutuhan hidup baru sebatas sandang, pangan dan papan. Itulah mungkin orang-orang zaman baheula memiliki banyak anak.

Filosopi ini katanya sih berasal dari negeri Tirai Bambu, alias negeri China. Dan sampai sekarang pun mungkin saja masih banyak yang ngejalanin filosopi ini dalam kehidupannya. Tentu saja bagi sebagian kalangan berduit.

Yah intinya kalo sudah menikah, jangan takut untuk memproduksi anak. Masalah kapan akan dikasih oleh Allah, itu urusan belakangan. Yakinlah, rencana Allah lebih sempurna. Semua akan indah pada waktunya Alhamdulillah 'ala kulli haal (segala puji bagi Allah atas segala sesuatu).

Justru yang ditakutkan adalah belum nikah tapi sudah berani nyetak anak.

6 comments

Haha... mungkin filosofi..... bisa dibilang benar juga bisa di bilang salah. yang pasti pendapat saya... filosofi tersebut relatif.... Salam Blogger.

Reply

Weh, ndak zaman lg kayaknya sekarang. He8x.

Reply

Iya gan. Mungkin hanya sebatas filosofi, namun pd kenyataannya berbeda..
Salam blogger

Reply

Iya jarang yg nerapin filosofinya, kebutuhan hidup sudah diluar kendali... Hehehe

Reply

banyak anak banya rejeki,, tapi kalau anaknya masih kecil2 gitu mungkin susah juga hidup mas =D

Reply

Ya anggap saja itu suatu anugerah gan,...
Trims sudah mampir

Reply

Post a Comment