Mengeksplorasi Tradisi dan Budaya Kota Indramayu

Lambang Kabupaten Indramayu - Blog Mas Hendra
Sedurunge kita garep ngucapaken selamat hari jadi kanggo kota Indramayu sing ke-489,semoga menjadi kota sing nambah maju lan diberiken keberkahane, makmur sentosa sing sepanjang masa.

(Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat hari jadi untuk kota Indramayu yang ke-489, semoga menjadi kota yang semakin maju, selalu diberikan keberkahan dan makmur sepanjang masa).


Tugu Mangga di Kota Indramayu - Blog Mas Hendra
SELAMAT DATANG DI KOTA MANGGA, INDRAMAYU 

Pada tanggal 7 Oktober 2016 lalu, perayaan hari jadi kota Indramayu  disebut juga festival Cimanuk 2016. Penamaan Festival Cimanuk ini karena kota Indramayu merupakan hilir dari sungai Cimanuk. Sungai Cimanuk sendiri melintasi beberapa Kabupaten, yakni Sumedang, Majalengka, Cirebon dan hilirnya berada di Indramayu.

Festival Cimanuk 2016 di Indramayu - Blog Mas Hendra

Namun kini, sungai Cimanuk menjadi ikon wisata baru kota Indramayu dengan didirikannya sebuah taman yang terletak di sepanjang bantaran sungai, persis di belakang Masjid Agung Indramayu, yang diberi nama Taman Cimanuk atau Cimanuk Park.


Wisata Cimanuk Park di Indramayu - Blog Mas Hendra
Keindahan Cimanuk Park di Indramayu. 

Semenjak diresmikan berdirinya Kabupaten Indramayu pada 7 Oktober 1527, Indramayu menunjukkan kemajuan yang cukup pesat, terutama pada sektor kelautan dan perikanan. Hal ini tidaklah mengherankan mengingat Indramayu terletak pada pesisir pantai utara pulau Jawa atau kita menyebutnya PANTURA. Sebagian besar masyarakatnya banyak yang berprofesi sebagai nelayan.

Ada satu hal yang cukup menarik menurut saya pribadi, mengenai bahasa yang digunakan oleh masyarakat Indramayu. Meskipun sama-sama berada di tanah Pasundan, ada dua bahasa yang digunakan, yakni bahasa Sunda dan Cirebon dialek Dermayu, masyarakat setempat menyebutnya Basa Dermayon. 

Indramayu yang dikenal juga sebagai kota Mangga ini, menyimpan begitu banyak kesenian tradisional, tradisi dan budaya serta kearifan lokal yang keberadaannya selalu dilestarikan oleh masyarakatnya secara turun temurun. Hal ini ditandai dengan sering diadakannya pesta rakyat setiap tahunnya.

Meskipun kota Indramayu sudah semakin maju dan berkembang pesat, namun masyarakatnya tetap mempertahankan beragam tradisi dan budaya yang sudah ada semenjak dahulu. Bahkan hingga kini, tradisi dan budaya tersebut masih tetap eksis.

Berikut adalah catatan singkat saya mengenai beragam kearifan lokal yang terdapat di kota Indramayu :


TRADISI DI KOTA INDRAMAYU
JARINGAN 


Jika Anda berkunjung ke Indramayu, terdapat sebuah tradisi unik berupa ajang pencarian jodoh massal yang terletak di Desa Parean Girang, Kecamatan Kandang Haur. Tradisi yang dilakukan secara turun temurun ini disebut juga Pasar Jodoh atau lebih dikenal dengan nama Tradisi Jaringan.

Jaringan berasal dari kata "jaring", yakni alat untuk menangkap ikan. Tradisi ini berawal dari terhentinya aktivitas melaut yang dilakukan oleh para nelayan di laut karena datangnya terang bulan, yang menyebabkan ikan-ikan sulit ditangkap. Biasanya pada saat terang bulan, ikan-ikan tersebut akan berdiam diri di dasar laut.

Untuk mengisi kegiatan, para nelayan yang didominasi para pemuda ini, justru beralih "menjaring" para gadis desa di saat terang bulan. Uniknya, bukan hanya pemuda dan pemudi saja yang hadir, namun bagi para duda maupun janda juga ada yang hadir dengan tujuan untuk membina kembali rumah tangga. 

Tradisi Jaringan di Indramayu - Blog Mas HendraMenurut adat yang berlaku saat itu, pemuda yang hadir harus memakai baju pangsi atau kampret berwarna hitam atau putih, dengan celana komprang sampai ke lutut dan berselempang kain sarung. 

Sementara, bagi pemudi diharuskan memakai baju kurung berwarna hijau dengan selembar selendang di pundak. Dan bagi para janda memakai baju kebaya dengan selembar selendang di pundaknya. 

Setelah proses menjaring selesai, si pemuda akan mengantarkan gadis hasil "jaringannya" pulang ke rumah dan berbincang dengan orang tua si gadis untuk proses lamaran. Jika disetujui, maka dalam proses lamaran, biasanya orang tua dari pihak pemuda akan membagi-bagikan sirih kepada tetangga sebagai isyarat bahwa si gadis sudah "diikat".


NGUNJUNG
(📹 : Nadi FCB)
Tradisi Ngunjung di Indramayu - Blog Mas Hendra
Tradisi Ngunjung atau Munjungan, berasal dari kata “kunjung”, yang berarti mengunjungi. Intinya, masyarakat akan datang berbondong-bondong untuk melakukan ritual syukuran yang dilakukan di makam leluhur serta makam yang dianggap keramat.

Tradisi Ngunjung sudah berlangsung secara turun temurun yang diadakan setiap satu tahun sekali. Selain diadakan di kota Indramayu, tradisi ini juga diadakan di kota Cirebon.


Tradisi Ngunjung di Indramayu - Blog Mas Hendra
Di dalam tradisi tahunan itu, juga menampilkan berbagai macam kesenian daerah seperti barongsai, tari-tarian dan liong. Tidak hanya itu saja, berbagai replika karya masyarakat juga dihadirkan untuk turut meramaikan tradisi ini, seperti kereta kencana, monster ikan, naga, kapal berukuran besar, hewan burung garuda serta hasil kreativitas lainnya yang terkadang mengundang gelak tawa.


NADRAN
(📹 : Official NET
Tradisi Nadran di Indramayu - Blog Mas Hendra
Tradisi Nadran merupakan upacara adat yang dilakukan masyarakat nelayan di pesisir pantai utara (Pantura) Jawa, seperti Subang, Indramayu dan Cirebon. Sebenarnya, tradisi Nadran merupakan campuran dari budaya agama Islam dan Hindu. Kata Nadran sendiri diambil dari kata “nadzar’’, yang berarti janji. Jadi inti dari tradisi Nadran ini adalah mempersembahkan sesajen kepada penguasa laut agar diberikan hasil laut yang lebih melimpah dan juga sebagai ritual tolak bala.

Biasanya sesajen yang diberi nama Ancak ini berupa anjungan berbentuk replika perahu yang berisi kembang tujuh rupa, buah-buahan, kepala kerbau, makanan khas dan lain sebagainya.


Tradisi Nadran di Indramayu - Blog Mas Hendra
Sesajen yang akan dilepaskan ke laut, akan diarak terlebih dulu mengelilingi beberapa tempat yang sudah ditentukan, sambil diiringi beragam seni tradisional, seperti Genjring, Barongsai, Telik Sandi, Tarling dan Jangkungan.

Di kota Indramayu sendiri, tradisi Nadran pada umumnya diselenggarakan di pantai Eretan Kulon, Eretan Wetan, Dadap, Limbangan dan Karangsong antara bulan Oktober sampai Desember.


NGAROT
(📹 : Fojo Design
Tradisi Ngarot di Indramayu - Blog Mas Hendra
Ngarot terdiri dari kata “nga-rot”, yang berasal dari bahasa Sunda yang berarti minum. Atau ada juga kata “ngaruat” berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti bebas dari kutukan dewa.

Tradisi Ngarot merupakan upacara adat yang terdapat di Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu. Tradisi Ngarot dilakukan sebagai bentuk rasa syukur untuk menyambut datangnya musim tanam. Upacara adat ini dilakukan pada bulan Desember pada minggu ke-3 dan selalu dilakukan pada hari Rabu, karena dianggap sebagai hari keramat.


Tradisi Ngarot di Indramayu - Blog Mas Hendra
Yakin, tidak mau ke Indramayu???

Tradisi ini hanya diikuti oleh pemuda-pemudi yang masih perawan dan perjaka, yang akan diberi tugas bertani. Nantinya para pemuda-pemudi tersebut akan saling bekerja sama dan bergotong royong untuk mengolah sawah. 


MAPAG SRI
(video 📹 : Imam Suboim)
Tradisi Mapag Sri di Indramayu - Blog Mas Hendra
Kata “mapag sri” berasal dari Bahasa Jawa halus. Kata “mapag” berarti menjemput, sedangkan “sri” berarti padi. Jadi secara etimologi Mapag Sri berarti menjemput padi (hasil panen).

Tradisi Mapag Sri dilakukan menjelang musim panen sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta atas keberhasilan hasil panennya. Namun jika keadaan tidak memungkinkan, seperti faktor keamanan atau buruknya hasil panen, maka tradisi Mapag Sri ditiadakan.

Menurut cerita, pada tahun 1970-an, dikarenakan hasil panen yang sedikit, maka Mapag Sri ditiadakan. Anda tahu apa yang terjadi? Akibatnya banyak masyarakat setempat yang jatuh sakit. Semenjak peristiwa itu, pesta rakyat Mapag Sri harus tetap dilakukan, walau sekecil apapun hasil panen yang didapat.


MAPAG TAMBA


Tradisi Mapag Tamba di Indramayu - Blog Mas Hendra
Tradisi Mapag Tamba merupakan upacara adat yang bertujuan untuk mengusir penyakit. Tidak hanya penyakit yang menimpa warga, namun juga penyakit (hama dan lainnya) yang menimpa sawah warga.

Dengan membawa air tambak yang dimasukkan ke bungbung bambu yang berasal dari kasepuhan, warga berjalan kaki dengan mengenakan pakaian serba putih. Lalu air tambak tersebut disiramkan ke persawahan warga yang berada di batas desa, agar terhindar dari “penyakit” dan hasil panennya lebih baik lagi.


SEDEKAH BUMI 
Tradisi Sedekah Bumi di Indramayu - Blog Mas Hendra
Tradisi berikutnya adalah Sedekah Bumi, yang merupakan sebuah upacara adat yang dilakukan oleh para petani pada saat akan turun menggarap sawahnya. Sebelum upacara adat dimulai, para petani akan berkumpul di sekitar sawah atau di suatu tempat sambil memanjatkan doa bersama, lalu setelah selesai, maka upacara adat pun mulai dilakukan. 

Sedekah Bumi biasanya dilakukan pada awal musim hujan, yakni sekitar bulan Oktober sampai Desember.


OBROG
(📹 : Indramayu Hiburan)
Tradisi Obrog di Indramayu - Blog Mas Hendra
Tradisi Obrog merupakan tradisi peninggalan nenek moyang yang masih dilestarikan oleh masyarakat Indramayu dan Cirebon. Tradisi Obrog merupakan tradisi unik yang dilakukan untuk membangunkan warga pada saat waktu sahur tiba.

Pada zaman dulu, rombongan Obrog ini menggunakan beduk dan kentongan untuk membangunkan warga. Namun seiring perkembangan zaman, rombongan Obrog beralih menggunakan alat musik, seperti organ tunggal lengkap dengan sound systemnya, gitar, suling dan kendang. 

Menjelang akhir bulan puasa, rombongan Obrog ini akan meminta sumbangan secara sukarela dari warga karena telah membangunkan sahur sebulan penuh. Tradisi Obrog ini masih dilestarikan di beberapa Desa saja, seperti Singaraja, Singajaya dan Desa lainnya di Indramayu.


TAWUR
(📹 : Omen Sam Nurohman)
Tradisi Tawur di Indramayu - Blog Mas Hendra
Bagi Anda yang sering melintasi jalur Pantura, tentu mengenal jembatan Sewo yang terletak di perbatasan Kabupaten Subang-Indramayu. Tepatnya di Kecamatan Pamanukan, Subang dengan Kecamatan Sukra, Indramayu.

Menurut cerita yang beredar, sungai besar yang berada di bawah jembatan Sewo dihuni oleh makhlus halus, mulai dari kuntilanak, siluman buaya putih sampai pada cerita tentang Nyai Ronggeng. Ronggeng adalah sejenis kesenian tari yang berkembang di Tanah Pasundan atau Tanah Jawa, dimana pasangan saling bertukar ayat-ayat puitis saat mereka menari dengan diiringi musik dari rebab atau biola dan gong.

Konon, dahulu kala, ada seorang wanita bernama Saedah Saini yang telah diusir oleh ibu tirinya dari rumah. Bersama kakaknya, Saedah Saini mengamen menjadi Ronggeng di jembatan Sewo ini. 


Tradisi Tawur di Indramayu - Blog Mas Hendra
Ronggengnya pun semakin laris. Karena itu banyak orang yang lewat jalan ini menebar (tawur) uang untuk mereka (Saedah Saini dan kakaknya). Adapun uang hasil menjadi Ronggeng, diberikan kepada Ibu tirinya sebagai pengganti beras satu batok kelapa untuk makan mereka setiap hari. 

Ronggeng Saedah pun semakin lama semakin terkenal saja, hal ini menyebabkan semakin banyaknya orang yang melakukan “tawur”. Meski sempat dibujuk untuk diminta kembali dan tinggal bersama ibu tirinya, Saedah menolaknya dan tetap ingin menjadi Ronggeng.

Singkat cerita, Saedah Saini meninggal dunia. Konon setelah ia meninggal, ia pun berubah menjadi seekor buaya putih. 

Hingga kini, tidak sedikit pengguna jalan yang melintasi jembatan Sewo ini memberikan uang (tawur) kepada warga sekitar yang sudah siap dengan sapu lidi (seser) untuk mengais uang yang terjatuh di aspal. Bahkan warga percaya, di antara belasan orang pemegang sapu yang mengais uang di jembatan tersebut, salah satunya merupakan makhluk halus penghuni jembatan, sisanya merupakan warga sekitar.


KESENIAN TRADISIONAL DAN BUDAYA DI INDRAMAYU


BEROKAN
(📹: toto sudiyanto)
Kesenian Berokan di Indramayu - Blog Mas Hendra
Kesenian Berokan biasanya diadakan setiap hari raya Idul Fitri, tepatnya setelah sholat hari raya. Uniknya, Berokan yang mirip Barongsai ini, biasanya diiringi oleh beberapa orang, yang masing-masing bertugas meminta beras kepada warga dan yang lainnya memainkan alat musik.

Cara memanggilnya pun cukup unik, yakni dengan berteriak “galak, gloak” Sang Berokan akan mengejar siapapun yang memanggilnya. Berokan ini akan berkeliling kampung mulai dari hari pertama Idul Fitri, sampai dua atau tiga hari sesudahnya.

Berokan bertujuan sebagai penolak bala dan dipercayai dapat mendatangkan kebahagiaan.


ORGAN TUNGGAL

Kesenian Organ Tunggal di Indramayu - Blog Mas Hendra
Kesenian lainnya yang cukup terkenal dan masih bertahan hingga saat ini adalah kesenian Organ Tunggal. Biasanya kesenian ini dipentaskan hampir di setiap acara, mulai dari acara tujuh belasan, acara hajatan, dan juga pada perayaan hari besar keagamaan, seperti Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha.

Tidak hanya diatas panggung, kesenian musik Organ Tunggal  ini juga dipentaskan dengan cara berkeliling kampung pada saat-saat tertentu. Adapun dua nama grup yang cukup terkenal, diantaranya Organ Tunggal Rolani Electone dengan Aas Rolani dan Organ Tunggal Puspa Kirana dengan Dewi Kirana. Tidak jarang, kedua grup ini sering mendapat job manggung di luar Indramayu, bahkan antar provinsi.


TARI TOPENG
Kesenian Tari Topeng - Blog Mas Hendra
Kesenian Tari Topeng dilakukan oleh penari yang memakai topeng di saat menari. Seiring berjalannya waktu, Tari Topeng semakin mengalami perkembangan, baik dalam hal gerakan maupun cerita yang disampaikan. Biasanya Tari Topeng dimainkan oleh satu penari saja, atau lebih dari satu orang penari.





Padepokan Mimi Rasinah di Indramayu - Blog Mas Hendra
Salah satu sanggar yang terkenal adalah Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah, yang terletak di Desa Pekandangan, Indramayu. Mimi Rasinah merupakan sosok maestro penari topeng yang telah mengajarkan kesenian ini secara turun temurun sampai saat ini. Hingga akhirnya beliau wafat pada bulan Agustus 2010.

Bahkan pada tanggal 13 November 2014 lalu, wakil Gubernur Jawa Barat, H. Deddy Mizwar meresmikan Padepokan Mimi Rasinah, yang juga dihadiri oleh Bupati Indramayu Hj. Anna Sophanah.


WAYANG KULIT INDRAMAYU

Kesenian Wayang Kulit Indramayu - Blog Mas Hendra
Kesenian Wayang Kulit Indramayu pada dasarnya sama dengan Wayang Kulit Jawa dan Cirebon, yang berbeda hanya terletak pada bahasanya saja. Pementasan kesenian Wayang Kulit banyak dijumpai pada acara hajatan, atau acara tradisi lainnya, seperti Mapag Sri, Ngarot dan Nadran.

Beberapa dalang Wayang Kulit Indramayu yang cukup terkenal adalah H. Tomo bersama Grup Langen Kusuma dan H. Anom Rusdi bersama Grup Langen Budaya.


SINTREN
Kesenian Sintren - Blog Mas Hendra
Kesenian Sintren merupakan kesenian tradisional yang juga ditemui di pulau Jawa, khususnya Pekalongan. Kesenian ini terkenal di pesisir utara Jawa Tengah dan Jawa Barat, antara lain Pemalang, Pekalongan, Brebes, Banyumas, Kuningan, Cirebon dan Indramayu.

Menurut berbagai sumber, asal kata “sintren” merupakan gabungan dari dua suku kata, yakni kata “si” dalam bahasa Jawa berarti “ia” atau “dia”, sedangkan kata “tren” berarti “tri” atau panggilan dari kata “putri”. Dapat disimpulkan Sintren adalah “Si Putri” yang menjadi tokoh pemeran utama dalam kesenian tradisional Sintren.

Sebenarnya Sintren merupakan permaianan di kala petang kaum ibu dan putri-putrinya yang sedang menunggu suami/ayah mereka pulang dari mencari ikan di laut. Hampir setiap sore tiba, Sintren terus dilakukan dan sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Namun pada perkembangannya, Sintren dijadikan sebagai objek mencari nafkah dengan cara berkeliling kampung dan mengandalkan saweran dari para penonton.


TARLING INDRAMAYU

Kesenian Tarling di Indramayu - Blog Mas Hendra
Banyak yang menduga jika kesenian musik Tarling berasal dari kota Cirebon, namun sebenarnya kesenian musik Tarling berasal dari kota Indramayu.

Kata “Tarling” merupakan singkatan dari kata “gitar” dan “suling”. Alat musik gitar sendiri berasal dari Eropa (Belanda) dan mulai masuk ke Indramayu pada abad ke-16 melalui Bandar Cimanuk atau Pelabuhan Cimanuk.

Pada awalnya, tarling merupakan seni musik dan lagu yang ditampilkan dalam bentuk nyanyian (kiser) yang diiringi oleh gitar dan suling saja. Namun lambat laun, kesenian Tarling mengalami pergeseran dengan menampilkan alat-alat musik yang lebih modern. 

Salah seorang maestro tarling klasik yang dikenal masyarakat Indramayu adalah (Almh) Hj. Dariyah, dengan grup Cahaya Muda.


GENJRING AKROBAT
(📹 : Kuli Youtube)
Kesenian Genjring Akrobat di Indramayu - Blog Mas Hendra
Kesenian Genjring akrobat merupakan kesenian yang diiringi alat musik tradisional Jawa Barat berupa beduk kecil, gitar, rebab, rebana dan seruling dengan dilengkapi tari Rudat. Hanya saja dalam pementasannya disertai gerakan akrobat atau atraksi dengan menggunakan media tangga, sepeda motor, sepeda roda satu/dua dan lain sebagainya.

Awalnya kesenian ini berasal dari pementasan Rebana para santri antar Mushollah sebagai media syiar agama Islam. Namun seiring perkembangannya, Genjring ini “dibumbui” dengan gerakan akrobat untuk menambah daya tarik agar kesenian tidak monoton dengan tidak mengurangi nilai syiar Islam di dalamnya


SINGA DEPOK

Kesenian Singa Depok di Indramayu - Blog Mas Hendra
Pada perkembangannya, wujud tunggangan mainan tarian ini mengalami perubahan, tidak hanya berbentuk singa atau kuda, melainkan ada juga yang lebih mirip berbentuk naga atau singa bersayap.

Kesenian Singa Depok atau Kuda Depok ini biasanya dipikul terdiri dari empat orang yang memikul sudut sisingaan dengan diiringi musik dangdut (secara live) yang dibawa rombongan lainnya di sebuah gerobak sound system.

Di atas tunggangan singa atau kuda tersebut, terdapat anak-anak penunggang yang dirias wajahnya dengan make-up mirip pengantin, sebagai anak yang “dihajati”.


SANDIWARA

Kesenian Sandiwara Indramayu - Blog Mas Hendra
Kesenian Sandiwara merupakan salah satu jenis kesenian yang masih bertahan sampai saat ini di Indramayu. Kesenian Sandiwara menyerupai kesenian Ketoprak yang berasal dari Jawa Tengah. Selain sebagai sarana hiburan, dalam setiap pementasannya, kesenian Sandiwara ini kerap membawa pesan moral atau pesan mendidik yang disampaikan melalui jalan ceritanya.

Pada umumnya, kesenian Sandiwara dipentaskan diatas panggung yang umumnya berukuran 8 x 10 meter, dengan tinggi 1 meter. Paduan besi atau bambu digunakan sebagai atap, dengan terpal sebagai pelindungnya. Bagian belakang panggung (background), dipasang 8 sampai 10 layar yang digantung diatas panggung. Tema background yang ditampilkan beragam suasana, seperti suasana hutan, pemandangan pedesaan, keraton, taman dan lain sebagainya, mengikuti alur cerita yang dimainkan.

Kesenian Sandiwara ini banyak dipentaskan pada acara pesta hajatan, seperti sunatan, pernikahan maupun hajatan syukuran lainnya. 
Visit Indramayu - Blog Mas Hendra
Gambar : zufry001.blogspot.co.id

Semoga bermanfaat.


Referensi :
Wikipedia.com
Bloggermangga.com
Tosupedia.com
kknm.unpad.ac.id 


Video editing
Hendra Suhendra

Share This Article


24 comments:

  1. Wah kebanyakan masih ada nuasa hindu nya yah ... Tapi itulah budaya yang harus kita lestarikan di tengah kemajuan zaman sekarang ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas Irwin, soalnya kebudayaan Hindu sudah cukup lama masuk ke pulau Jawa. Dan cakupannya pun cukup luas... Makanya sebagian besar tradisi dan budaya di tanah Jawa mirip banget sama ajaran Hindu

      Delete
  2. Indramayu, jadi ingat hasil buminya yg saya pavoritkan...mangga!

    ReplyDelete
    Replies
    1. TOS!! Sama nih, mangganya yang uenak, dan tentu saja masih banyak makanan khas dari daerah Indramayu teh.

      Delete
  3. Selamat hari jadi kota Indramayu ya kang, semoga kedepannya menjadi kota yang makin maju dan masyarakatnya makin makmur dan sejahtera.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Kang, makasih atas ucapannya... Dan tentu saja doa ini berlaku juga buat semua kota di Indonesia

      Delete
  4. itu yang namanya tawur tak kirain gelut massal mas...jebule tebar receh ya. Seperti di Alas roban gitu kali ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo di Alas Roban saya kurang paham, karena nggak pernah ngelewatin, tapi kalo Indramayu saya sering lihat, soalnya selalu ngelewatin kalo mau mudik ke Kuningan... Biasalah, naik bis Luragung Jaya, hehehe

      Delete
  5. Bayak juga ternyata budaya indramayu kalau saya taunya tarlingnya doang.Sayangnya sekarang jarang lewat indramayu soalnya kalau mudik lwt tol cipali langsung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak mas Dwi, kalo dieksplrorasi lebih dalam lagi. Wah sekarang mah jarang menikmati pemandangan Pantura yah, soalnya sudah pada lewat tol Cipali semua...

      Delete
  6. Ternyata nggak hanya terkenal mangganya saja, tapi Kota Indramayu juga terkenal akan tradisi dan budayanya ya mas. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa kesana :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sekali-kali mainlah ke Indramayu mas Defi

      Delete
  7. Wih ada banyak juga ya tradisi dan budaya di Indramayu. Jomblo harusnya ke Indramayu pas festival Jaring buat nangkap jodoh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nantinya para jomblo penuh di Indramayu ya,hehehe

      Delete
  8. wih kagum saya mas dgn kebudayaan daerah indramayu..
    banyak bgt, dan saya bru tau ini..
    ini salah satu budaya yg patut dipertahankan dan diwariskan.
    anak sekolah sring bgt nih mas cri referensi ttg kebudayaan..

    lengkap bgt mas referensinya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sudah mampir. Dan selalu dilestarikan oleh masyarakat Indramayu mba, supaya tidak punah

      Delete
    2. Bangga dadi wonk dermayu....

      Delete
    3. Siip kang zay, memang kita harus bangga sama kampung halaman sendiri dong...

      Delete
  9. Wah, lengkap banget budaya indramayunya.. sukses ya Mas? besuk buat nyritain anakku lagi.. Indramayu part2 hehehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih kang. Siap lah, saya tunggu part 2 nya, hehehe

      Delete
  10. Wah pantesan juara!...lahwong lengkap kok artikelnya!... mantab deh artikelnya... selamat ya!...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jiaahh, bisa bae. Sama-sama mas, sampeyan juga Juara yang sesungguhnya

      Delete
  11. Waow banyak sekali budaya kota Indramayu. Yang paling berkesan itu lo, Nyai Ronggeng. Karena menurut cerita yang saya dengar, berbeda dengan yang ada di Kota Indramayu ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak banget mas. Mungkin terdapat beberapa versi yang beredar kali ya mas...

      Delete