Menikmati Mie Ayam di Depan Pondok Indah Mall

Salah satu yang jadi masalah terbesar dalam kamus kaum hawa adalah masalah naiknya berat badan. Kalau sudah begini, mereka nggak lagi perduli sama kenaikan harga BBM apalagi kenaikan harga kutang. Demi menjaga yang namanya berat badan agar tetap ideal, sebisa mungkin mereka akan menghindari untuk makan tengah malam. Makhluk yang njlimetnya setengah modiar ini berdalih bahwa makan berat ketika tengah malam dapat menyebabkan berat tubuhnya akan bertambah naik dan bentuk tubuhnya nggak lagi seramping mba Olla Ramlan maupun mpo Omas. OMAS FPI, ooh… itu ORMAS tong!!


Namun hal ini nggak berlaku buat saya. Yang namanya kalau sudah lapar, ya harus makan, walau sudah larut malam sekalipun. Saya juga nggak terlalu ambil pusing sama bentuk badan six pack yang nggak mirip lagi sama The Rock atau Cita Citata, karena kebanyakan pria six pack itu nggak hanya disukai sama kaum hawa, tapi juga disukai sama kaum adam. Padahal Adam diciptain buat nemenin Hawa, bukan nemenin Adam lagi. Sungguh suatu bentuk kezaliman yang nyata!!!

Ngomongin masalah makan tengah malam, sehabis pulang kerja malam hari, kalau lagi lapar, biasanya saya beli makanan yang agak berat-berat asoy gimana gitu, kayak indomi++ (keju dan kornet), ketoprak+telor dadar, bubur ayam, oseng barbell lada hitam, atau mie ayam. Baca juga -> Resep Cara Membuat Kentang Parut Goreng

Gerobag Mie Ayam Mangkal di Depan PIM - Blog Mas Hendra
Sorry guys, ngambil foto gerobag mienya kejauhan, soalnya saya nyari view yang pas, tepat dan akurat. Para pembeli menikmati mie ayam di atas trotoar.

Ngomongin soal mie ayam, saya sudah punya tempat yang bisa dibilang jadi pilihan favorit saya, selain rasanya enak, harganya juga murah meriah, hanya Rp. 12.000 per porsi. Pemandangannya juga bagus, MOBIL SAMA MOTOR LEWAT!! Yah meskipun lokasinya bisa dibilang nggak mendukung banget, ada di atas trotoar di samping Pondok Indah Mall (PIM), tapi bukan masalah bagi saya, toh yang penting rasanya maknyuss.

Di sini nggak ada yang namanya meja untuk makan, penampilan live music, apalagi pelayan-pelayan seksi, disini hanya tersedia beberapa bangku plastik yang sudah mulai usang dan ditemani sama pemandangan kendaraan yang lewat. Di samping gerobag mie ayam, ada juga gerobag penjual minuman teh botol. 

Mie ayam di samping PIM ini mulai buka malam hari dan terlihat selalu ramai, terutama malam Sabtu atau malam Minggu, nggak sedikit juga pasangan muda mudi yang nongkrong di sini. Jomblo juga banyak sih. Kebanyakan pembeli yang makan di sini para karyawan yang pulang larut malam, supir taksi, tukang ojeg offline maupun online, pelaku begal dan lain sebagainya.


Berdasar dari penelitian saya bersama team NASA, sedikitnya ada tiga kelebihan yang didapat dari strategi si penjual yang menjajakan mie ayam pada malam hari di kawasan PIM :

1.  Berhubung food court di kawasan PIM sudah tutup pada malam hari, maka mie ayam itu jadi sasaran karyawan mall dan warga sekitar yang kelaparan di malam hari.

2. Kemungkinan Satpol PP untuk menggerebek kawasan itu sangat kecil, karena mereka sudah pada istirahat saat malam hari. Sungguh suatu bentuk strategi sangat jitu yang nggak dilakuin di negara Amerika sekalipun.

3. Terhindar dari teriknya panas matahari yang membakar ketika jualan di siang hari.

Nah buat teman-teman yang kebetulan melintas malam-malam lewat jalan Pondok Indah, atau memang dekat sama lokasinya, coba saja datang dan rasakan sensasinya, hehehe... Siapa tahu saja bisa kopdaran sama saya yang kebetulan lagi makan mie disana.

Semoga bermanfaat.


20 comments

Siapa mas nama penjual mie ayamnya?
Kalo saya mas ga doyan makan yg berat2 kayak besi 2 kg, batu kali, dan sejenisnya
Suer loh

Reply

Nama penjualnya Niki. Nama yang beli Niki. Nama yang jual teh botol Niki juga

Reply

Wuoooh. Mie ayam. Aku lebih suka mie ayam sih daripada bakso, Mas Hen. Enak panjang-panjang gitu. Kalau bakso kan bulet-bulet.

Kalau makanannya maknyus, tempatnya jadi nomor kesekian ya. Apalagi itu sepertinya terbebas dari satpol PP. Tapi serem juga kalau beneran ada pelaku begal, Mas :(

Reply

Ini kok pada suka yang panjang-panjang gitu yak!!????

Yup, sing penting rasane maknyuss... Satpol pp urusan belakangan. Yah kali aja begalnya numpang makan dulu, hahaha

Reply

Mi piace molto il tuo blog, spero che possiamo scambiare di introdurre un software gratuito di recupero della foto.Free Photo Recovery Software

Reply

Makan dong kalo lapar, masa komen

Reply

Ora ngerti babarblas pisan mas Torie...

Reply

Pilihan yang tepat makan mie ayam disekitaran PIM, abis kalo makan di PIM nya pesen minum ice tea aja harganya 30rebu alamakjang!
Nah kalo dipinggiran es teh segelas cuma 2500 perak O(∩_∩)O

Reply

Di PIM banyak pilihan emang, tapi ya harganya juga wow, paling enak ke PIM itu tanggal muda

Reply

Tempat sekelas PIM ada mi ayam juga? Wow, pasti jadi destinasi gue tuh. Gue nggak mungkin makan di mal-mal gitu. Nggak ada duitnya. Hehehe.

Tapi tetep aja, mi ayam di deket sekolah gue tetep juara. Mungkin karena belum nyoba mi yang ada di depan PIM makanya gue bilang begitu

Reply

Ada dong. Yang jelas masing-masing mie ayam punya rasa khas tersendiri...

Reply

saya punya langganan mie ayam, 8 juta semangkok mas..
ketika dikasih 10ribuan, dapat kembalian 2 ribu..
hahahaha..

mantap dah mie ayam itu, sudah pakai telur lagi..

Reply

Hmm ... Mie ayam, termasuk salah satu makanan favorit saya, nih! Penjualnya bisa melihat peluang yang bagus, ya ... Memanfaatkan situasi yang adem, bebas dari satpol PP dan yang jelas selalu siap melayani orang-orang yang kelaperan di tengah malam. Top,deh!

Reply

Wow, baru tau ada mie ayam pake telor, keren juga tuh mas Eka

Reply

Sama dong, hobi makan mie

Reply

Aku penggila mie ayam jalanan ni mas hend
Yang penting dibikin yamin atau manis uh sedap

Reply

TOS!! Sama dong, kayaknya mie ayam jalanan lebih enak dari restoran deh,

Reply

tadinya ngiler gara-gara baca postingan mie ayam ala Mas Hendra ini.
Pas baca komen2nya malah senyum2 sendiri...
Duh agak gawat, ya :D

Reply

Bae-bae ilernya dilap dulu tuh, ngeces... Komennya aneh dan unik ya

Reply

Post a Comment