Sebutir Padi

blog mas hendra
Lagi iseng-iseng liat koleksi foto di handphone, saya berhenti agak lama pada salah satu foto. Saya akui tidak ada yang istimewa dari foto itu. Background foto cuma hamparan sawah yang luas. Foto itu saya ambil saat sedang mudik ke Tegal (kampung Istri). Namun anehnya seolah-olah foto tersebut "menarik" tangan saya untuk menulis artikel ini yang sangat sederhana sekali. 

Waktu itu saya berniat mengajak Nabil untuk melihat-lihat sawah keluarga. Sambil jalan-jalan pagi cari udara segar meskipun matahari sudah mulai agak meninggi. Saya pergi bareng anak, istri dan kedua mertua. Singkat cerita, kedua mertua saya mulai mengolah sawah. Mereka mulai mengolah padi yang sudah mulai menguning. Tampak keringat menetes dari dahi keduanya. Sungguh pembakaran kalori yang nyaris sempurna.

Cuaca sudah semakin panas. Saya perhatikan gerakan mereka dalam mengolah sawah sudah sangat mahir. Meskipun panas terik, tapi tetap tanpa mengenal lelah, mereka terus berjibaku dengan sawah. Saya perhatikan sekeliling, hanya ada beberapa petani. Kedua mertua saya memang petani tulen. 

Sambil sesekali saya melirik mereka, terlintas dalam hati, "apa jadinya kalo saya makan nasi, namun tidak saya habiskan". Nasi terbuang jadi mubazir. Sedangkan para petani telah bersusah payah dengan keringatnya dalam mengolah sawah. Mulai dari menanam bibit padi, pengairan padi, menyemprot hama, menjaga padi dari serangan tikus, menumbuk dan memanennya. Belum tentu semua itu bisa kita lakukan. Yang bisanya cuma tinggal makan saja. Kalau makan sampai kekenyangan nasinya tidak dihabiskan. Malah dibuang.
blog mas hendra

Kadang kalo kami lagi pada makan bareng, saya perhatikan bapak mertua saya selalu menghabiskan seluruh nasi dan lauk pauknya sampai titik nasi penghabisan. Tidak ada istilah makannya kalau tidak habis nanti disambung lagi. (Emangnya Sinetron).

Beliau sering berujar kepada kami saat sedang makan : "Hendra makannya dihabiskan, jangan sampai terbuang nasinya. Eman eman". Saya paham maksud dan perasaan beliau. "Enggih Pak". 

Beliau juga pernah berujar :

"Bapak sama Emak jadi Tani bukan orientasi karena rupiah. Kur nggo anake karo putune (cuma untuk anak sama cucunya). Sing penting iso mangan sing wareg (yang penting bisa makan yang kenyang)". Dengan logat Jawanya yang kental (sekental susu kental cap Enaak).

Karena merekalah (salute to petani)  kita bisa merasakan makan nasi tanpa harus mengolahnya dulu dari bibit padi (kamu mau makan nasi, tapi kudu ngolah dulu dari mulai nanam bibit padi sampai panen??). Meskipun sekarang peralatan modernpun sudah bisa digunakan dalam area persawahan, tapi tetap pak/bu Tani lah yang sangat berjasa. Apa jadinya kalau saja seandainya seluruh petani dijagat tanah air melakukan aksi mogok kerja.


NB : Tulisan ini dibuat bukan untuk membanggakan kedua mertua saya. Namun karena inspirasi dari keduanya saya bisa menulis artikel ini yang ditujukan untuk seluruh petani setanah air. Terima kasih atas jasa kalian pak / bu Tani.. Keep spirit.

~ salute to all farmers in Indonesia ~

Post a Comment