Buang Jauh Egomu Kawan


gambar pegangan tangan - blog mas hendra


Bismillah...

Mesin motor saya hidupkan. Jarum jam terus berputar tak berhenti. Seolah saya bertarung melawan waktu. Saya melangkahkan kaki keluar rumah demi mencari nafkah. Ucapan salam dan pesan "hati-hati di jalan" selalu terucap dari istri dan anak saya yang berumur 4 tahun. Dengan perlahan motor saya meninggalkan rumah kecil itu. Untuk mejemput rezki Allah (baca : bekerja).


Awan tampak gelap pertanda seolah hujan siap datang. Padahal jarum jam menunjuk angka 12.00 siang. Saya tepikan motor sejenak. Jubah khusus hujan (jas hujan) saya pakai. Benar saja. Hujan turun lumayan deras. Tapi waktu juga yang membuat saya harus terus bergerak. Hujan tak saya hiraukan.

Sambil motor melaju perlahan di jalan raya, terlihat banyak pengendara motor yang berteduh. Seolah mereka enggan untuk basah-basahan. Atau belum punya jas hujan. Jalanan yang semakin basah dan licin memaksa pengendara motor untuk lebih hati-hati dan waspada. Termasuk saya. Lebih sayang nyawa boss!!

Namun masih saja ada pengendara motor yang srantal sruntul bawa motor kayak di kejar kereta. Ketika saya hendak berbelok mengambil lajur kiri dengan perlahan, tampak satu motor tersebut (motor pengantar makanan) enggan untuk memperlambat laju motornya. Malah ngebut gak ketulungan. Mungkin beliau di kejar waktu target mengantar makanan. Untung saja tidak terjadi tabrakan. Dengan sigap dia rem mendadak, sambil mengeluarkan "nyanyian" yang mungkin membuat Anda "panas hati sirah ngebul". Saya hanya memberi isyarat permohonan maaf. Tapi tetap saja acuh tak acuh. Seolah merasa dia yang paling benar. Beliau langsung tancap gas dengan emosi. Dia merasa jalanan milik dia.

Ah sudahlah, pikir saya. Toh saya juga gak kenapa2. Saya hanya coba mengambil hikmahnya. Lain kali lebih hati-hati dan (extra) waspada. Saya teringat pesan orangtua, untuk selalu jadi orang yang berakhlak baik dan pemaaf. Karena saya yakin semua perbuatan yang kita lakukan ada balasannya di akhirat nanti. Saya juga gak habis pikir, kenapa banyak orang yang mengumbar amarah di jalan. Hanya karena hal yang sepele. Bisa menjadi hal yang besar. Merasa paling benar dan gak pernah salah. Huuh.. What a big ego! Seandainya setiap manusia menyadari dari apa dia diciptakan (SETETES AIR MANI), mungkin dia gak akan (pernah) menjadi manusia yang sombong, arogan, angkuh, gak menghargai dan lain sebagainya. Yang semuanya itu merupakan sifatnya iblis.

Ingat! Kesombongan hanya milik Allah Ta'ala.

Pesan : Be a good person guys.

Post a Comment